Ketika saya duduk di kelas satu SMP, ayah wafat. Ibu kemudian menjadi penopang utama keluarga. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, saya masih perlu melanjutkan sekolah, sementara keadaan keluarga menuntut kami untuk saling menguatkan.
Saya mulai meneruskan pekerjaan ayah sebagai tukang servis elektronik. Tentu saya harus banyak belajar. Di tengah pelanggan yang perlu dilayani, saya tetap berusaha menjaga sekolah berjalan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan sampai larut malam, lalu keesokan harinya saya kembali masuk kelas.
Dari pekerjaan itu, saya bisa membantu kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan. Ketertarikan pada elektronika pun semakin tumbuh. Namun, ada impian lain yang ingin saya kejar: melanjutkan kuliah di IPB, seperti kakak saya.
Saya kemudian merantau ke Bogor. Pada percobaan pertama mengikuti seleksi IPB, saya belum berhasil. Sambil menunggu kesempatan berikutnya, saya mengikuti kursus dan bekerja di bidang teknologi informasi. Dengan dukungan doa ibu, saya mencoba lagi dan akhirnya diterima di program Diploma III Elektronika dan Teknologi Komputer.
Keinginan belajar itu berlanjut ke jenjang sarjana Manajemen dan magister Manajemen dan Bisnis. Pengalaman merintis usaha membuat saya merasa perlu memahami keuangan, pemasaran, dan pengelolaan organisasi, selain keahlian teknis yang sudah saya tekuni.
Perjalanan ini mengajarkan saya untuk menghargai proses setiap orang. Ada yang memulai dari keterbatasan, ada yang memerlukan kesempatan kedua. Saya berharap cerita ini bisa menjadi teman bagi siapa pun yang sedang berusaha melangkah.
Mulailah dari kemampuan yang ada. Rawat kemauan belajar, lalu beri diri sendiri kesempatan untuk mencoba lagi.